October 12, 2014

Selamat datang kembali?

Saya mengenalnya sudah lama, sangat lama. Ketika saya belum mengenal handphone atau laptop. Ketika dia masih suka mengenakan kemeja dengan celana pendek. Ketika kami sama-sama bukan penggemar nasi.

Aku merindukannya. Iya. Aku merindukannya, meski aku tak mengingat lagi wajah dan senyumnya. Aku merindukan sikap tenang dan cerianya, aku merindukan ketegasannya pada kami. Aku merindukan dia yang lalu lalang di depan rumahku. Bahkan aku merindukan adiknya yang selalu ada di dekatnya. Berani sekali dia pergi tanpa mengucap selamat tinggal? Kala itu aku masih terlalu kecil, masih tak mengerti maksudnya pindah dan pergi. Tapi dia? Tentu saja, dia sudah memahami, tapi dia selalu begitu. Selalu mengutamakan ke gengsiannya, selalu saja. Tidakkah dia mengerti bahwa gadis yang umurnya sedikit diatas adiknya ini sangat sangat ingin melihatnya di saat terakhir itu. Betapa kejamnya kau yang hanya melihat lalu memalingkan wajah dan bercengkerama dengan saudara-saudaraku seolah tak akan pernah pergi jauh.
Iya. Memang kau sudah kembali sekarang. Aku tahu. Tapi menurutmu apa aku mau mengatakan "hai selamat datang kembali". Tidak. Aku memang rindu tapi tidak yang seperti itu.

No comments:

Post a Comment