January 11, 2013

two birds III


Bagaimana bisa burung kecil tidak mengurungkan niatnya untuk pergi, tentu saja dia kembali, kembali pada apa yang dia sebut "rumah" bersama pasangannya itu, bersama.
Takan ada lagi kebimbangan, di sinilah tempatnya, bersama seekor burung yang sama sepertinya yang begitu menghargainya.
Tapi hari terasa begitu lama? dan itu terasa ganjil. apa itu berarti waktunya bersama tidak sebanyak dulu? Entah.
Dan hari itu, tiba-tiba terasa begitu lama, sangat lama, perlahan burung kecil menengok ke arah pasangannya itu, berharap dia berbalik, seperti dia berbalik setiap saat dia melihat ke arahnya. Tapi, tidak. Kenyataannya, tidak. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang tau.


Perlahan burung kecil mendekat, tapi langkahnya terhenti, sesaat setelah suara itu keluar
"kau terlambat. bukan yang dulu, yang selalu datang saat aku menunggu tanpa aku meminta"
"Tapi bukankah kamu yang tidak berbalik seperti dulu?" benak burung kecil dalam diamnya.
"aku menghampirimu, dan kau tidak memintaku"
"tapi kau terlambat! sudahlah." dan tiba-tiba burung kecil itu terbang tinggi dan semakin tinggi, hingga mata burung kecil itu tak dapat melihat bayangannya.
"kembalilah. tolong." sahut burung kecil lirih, tapi kosong. tentu saja, tak kan ada yang bisa mendengar suara lirihnya, tapi dulu ada yang mendengarnya, seekor burung yang baru saja terbang tinggi itu, dulu, dia bisa mendengar selirih apapun dia berkata.
burung kecil menunggu, menunggu, menunggu kapan akan kembali. tapi tak ada tanda-tanda kehadirannya.
Bagaimana bisa dia hidup sendiri, di tempat sepencil itu tanpa makhluk yang sama kecilnya dengan dia, bagaimana bisa dia hidup?
dia menatap jauh ke langit ke arah burung yang dinantinya terbang, lalu menatap langit lain yang luas, naluri terbangnya muncul, dan dia terbang, tinggi dan semakin tinggi.
"kau. jika kau bisa mendengarku. maaf, aku ingin terbang. tak mungkin aku hanya diam menunggumu di situ. jika saatnya tiba, jika takdir membawaku, aku akan kembali dan saat itu kau yang menungguku. maaf."
burung kecil tak sadar, yang dia ajak bicara, yang dia tunggu, ada di situ, di balik pohon besar dan tak terlihat kecuali dahannya diterpa angin, memandang kepergian burung kecil, dan kembali terbang ke arah yang berlawanan. "aku akan kembali, pada saatnya nanti"

No comments:

Post a Comment