January 23, 2013

Rabu, 23 January 2013

Hujan begitu deras-sederas-derasnya. Gemerciknya membuat melodi yang indah. Bau tanah basah membuat relaksasi otot-otot yang berkontraksi. Dinginnya lembut tanpa menusuk epidermis kulit.
Tenang. Damai.
Membuat kornea mata yang lelah semakin ingin terpejam, membuat serebum dan serebelum yang sibuk ingin beristirahat, membuat hati yang kita sentuh di jantung itu semakin jadi perasa. Seperti kata orang, hujan selalu mengingatkan kita akan kenangan. Kenangan tentang  apa yang sudah teralami di masa bahkan detik sebelum hujan itu turun. Aku merasakannya, aku merasakan semuanya, semua yang bersatu menjadi harmonisasi dan pelakonan yang indah. Benar-benar indah. Subhanallah :)
Aku berjalan pelan diantara gaungan suara ricuh, diantara dentuman hentakan kaki, diantara gema tawa, bisikan halus, dan diantara kesedihan menusuk. Sejenak aku terdiam berfikir, tentang apa yang sedang aku pikirkan. Tapi pikiran itu mendadak lenyap, hilang. Ditelan gemercik air yang mempesona, diantara cermin diriku di air hujan yang tergenang.
Aku terdiam, lagi. Sudah lama aku tidak menyentuhnya, bermain dengannya, melihat gerakannya dengan kecepatan sentripetalnya, merasakan gaya kapilaritasnya, merasakan dingin suhunya. Semua. Aku hampir melupakannya. Perlahan tapi pasti, sepatu itu mendekati air, tak peduli akan suara-suara bising yang berusaha menahannya untuk tidak menyentuh air. Tapi hampa, tak terasa apapun. Tentu saja, sepatu memang hanyalah sebuah benda mati. Hanya benda mati? Kaubilang hanya? Bahkan dia melindungimu dari tajam dan panasnya jalan yang kau lalui. Sepatu itu hebat. #skip
Menyerah? Tentu saja tidak. Kubawa sepati itu larut dalam genangan air, tp tetap saja, nothing. Sepatu hebat kan? Aku ingin menyentuhnya, tapi makhluk hidup yang tergolong dalam hewan anvertebrata itu bekerjasama membuatku lemah. Menyerah? Tentu saja tidak. Aku ingin merasakan sekaligus melihat kapilaritasnya melalui orgami-orgami kecil berbentuk perahu itu. Kubiarkan dia mengambang di genangan air yang tak seberapa dalam, dan tak seberapa dangkal juga baginya yang teramat kecil. Aku menyentuhnya, melalui kapilaritasnya, dengan suhu normalnya yang bukan suhu kamar, tentu saja.
Dengan kecil tubuhnya itu dia bertahan lama, lama, tapi karam karena daun kering menahan jalannya. Bukankah lumba-lumba tak akan diam jika ada kapal karam, tentu saja, sebelum dia menjadi kelompok Black Pearl kan? atau entah apalah itu. Aku bukan lumba-lumba, tapi setidaknya aku ingin perahu itu terus berjalan sampai aku tak bisa melihatnya lagi, dan aku akan melambai. Tak peduli dengan dinginnya, tak peduli dengan sisi kejam air hujan, perahu itu harus kembali ke lintasanya.
Iya. Pada akhirnya dia kembali, dan liat berapa orang yang tersenyum, menyaksikan, indah kan? Indah. Daun-daun yang basah itu menerima rintikan hujan, menjatuhkan tetesan air dari daun-daun yang di atas ke bawah dan semakin ke bawah, lalu jatuh diantara genangan air membentuk lingkaran kehidupan, sementara perahu melaju melaju dan melaju, sampai akhirnya dia tenggelam, bukan karena menyerah, tapi memang itulah saatnya dia tenggelam.
Dan tiba-tiba angin datang, membawaku terbang jauh ke arah yang tak tahu dimana ujungnya. Aku bilang aku berat, tapi dia menjawab "biarin". Namun perlahan aku menikmatinya, suaranya yang merdu, sentuhannya, terlebih dinginnya yang berpadu dengan hujan. Aku kembali terpesona akan alam. Indah.
Di setiap detiknya, kubiarkan sisi negativ terbawa angin, kubiarkan segala hal penghancur asa dibawa pergi dari setiap air yang menetes dari helai rambut, kubiarkan semuanya terlepas. Dan aku bebas. Aku bersyukur.

1 comment:

  1. mantap blognya :) artikelnya pada ungkapan hati semua . lumayan nyasar di sini :D

    ReplyDelete