July 1, 2012

BFF

Best Friend Forever

        Regina hanya bisa diam terpaku, matanya berlinagan air mata. Tangannya membawa sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado warna merah.
”Tolong, lebih cepet lagi ya, Pak?!!”, sahutnya pada sopir TAXI. Lalu dia kembali diam memandangi kotak merah itu, dan meneteskan air mata.
”Sebenernya. . . Tania punya kanker otak. Tapi dia nggak ngebolehin tante ngasih tau ke siapa pun, apalagi kamu. Sekarang, kamu bisa ke Rumah Sakit kan???”
Hanya kata-kata itu yang ada di kepala Regina, lalu ingatannya kembali ke masa lalu.
”Kamu nggak tau rasanya jadi aku, Tan!!! Ibuku buta,, ayah aku udah meninggal... Dan aku anak orang miskin. Sedangkan kamu?! Kamu sempurna!! Kamu punya segalanya!! Gimana caranya biar aku nggak iri sama kamu?!!”, Regina berteriak di depan Tania yang memandangnya nanar.
”Aku tahu, Regina... Tapi, kamu nggak harus fitnah-fitnah aku terus menerus. Kita temen kan??! Aku bisa kok berbagi sama kamu...”
”Justru itu karana kita temen..! Semua orang banding-bandingin aku sma kamu! Aku muak dengerin pujian-pujian tentang kamu!! Kenapa sih,, aku harus kenal and jadi sahabat kamu??! Akan lebih baik kalo kamu nggak ada!!”, Regina tetap terlihat marah, sedngkan Tania hanya menangis dalam diam.
        Kini Regina tengah berada di gerbang Rumah Sakit, dia berlari melewati lorong-lorong yang tak tahu dimana ujungnya. Ingatannya kembali mengenang...
”Sorry, Tan!! Tapi, jujur aku udah nggak bisa jadi temen kamu lagi!! Aku nggak bisa selalu bersikap manis, sedangkan hatiku ingin memiliki semua yang kamu miliki..!”, sahut Regina di jalan depan sekolah, sambil meninggalkan Tania yang masih tak percaya dengan semua ucapan Regina. Tania berusaha mengejar Regina, namun sebuah mobil melaju dengan kencang menuju ke arah Regina.
”Regina, AWAS!!!”, Tania mendorong tubuh Regina ke pinggir jalan.
DUAR!! BRUUK!!!
”TANIA!!!”
. . . . . . . . . . .
Regina tetap berlari di lorong putih itu, dengan terus meneteskan air mata.
”Kenapa kamu tolong aku, Tan?!! Seharusnya kamu bahagia saat ini. Hari ini kamu ulang tahun,, dan aku mau minta maaf karena sikap aku selama ini. Seharusnya kamu nunggu aku nyerahin kotak ini ke kamu. . . Seharusnya,, seharusnya nggak ada sahabat yang iri sama sahabatnya sendiri!!!”, celoteh Regina sambil tetap berlari. Kaki Regina berhenti di depan sebuah kamar. Jantungnya berdetak kencang.
        Dengan perlahan, dia memegang ganggang pintu dan hendak membukanya, namun pintu itu terbuka. Seorang lelaki separuh baya memakai baju putih keluar kamar dengan tertunduk, diikuti dengan dua orang perawat. Regina terdiam di depan pintu, kakinya terasa lemas. Dia mencoba melangkah.
”Tania. . . . .”, dilihatnya mama dan papa Tania yang memandangnya dengan mata sayu. Ingatan Regina kembali muncul. . .
”Regina... kamu,, kamu yang buat aku bisa hidup selama ini. Semangatmu!! Persahabatan kita adalah yang paling penting!! Kamu. . . boleh ambil apa aja yang kamu mau dari aku. Asal kita tetep temen...”, tania berkata sedikit demi sedikit dengan sisa kesdarannya di dekapan Regina, sebelum dia terkulai lemas di dalam mobil ambulance.
. . . . . . . . . .
        Regina kembali melangkah perlahan, senyum Tania seakan ada di depannya.
”Regina. . . Tania kritis!!”, itu yang dikatakan mama Tania saat Regina sampai di gerbang Rumah Sakit tadi.
Senyum Tania yang ada di bayangannya kini menghilang. Dia telah berada dekat dengan tubuh Tania yang terkulai tak berdaya. Bukan senyum merekah yang ada di wajahnya, melainkan wajah pucat pasi, walau tetap ada senyum tipis di sana. . .
Regina diam, lalu menggeleng.
”Tania. . . . ! Nggak!! Aku pasti salah kamar!! Tante,, kamar Tania dimana??! Mana Tania, tante??! Jawab tante!!”, Regina mengguncang-ngguncang tubuh mama Tania yang menangis.
”Regina. . . Tania udaha meninggal,, dan  kita harus bisa ngerelain dia. .. !”, jawab mama tania dengan suara parau.
Regina kembali memandang Tania yang diam tak bergerak, lalu dia kembali menggeleng dan berbalik keluar kamar. Saat berada di luar kamar, dia menoleh ke belakang, seperti ingin memestikan bahwa yang dilihatnya benar-benar Tania. . .
Tubuh Regina berguncang, dan dia menangis perlahan dan hujan pun ikut mengatar kepergian Tania.
”Tania. . . maafin aku!! Bahkan,, aku belum minta maaf sama kamu. . ! Kita tetep temen kan?!!”, regina bergumam sambil memandang jatuhnya air hujan di taman Rumah Sakit, bersamaan dengan air matanya yang semakin deras.
. . . . . . . . . .
Beberapa bulan kemudian. . .
Terlihat seorang gadis bersama dengan ibunya berjalan ke sebuah rumah. Seorang ibu, keluar dari rumah itu, dan menghampiri mereka.
”Regina. . , kamu jadi tinggal di sini kan??! Rumah ini, bakalan sepi kalo cuma da tante sama om aja.!”
Regina tersenyum dan mengangguk, lalu ibu di sebelahnya menyahut, ”Pelanginya bagus!!”
Regina memandang ke arah pelangi yang ditunjuk ibunya.
”Tania. . . Apa kamu kirim pelangi itu juga untuk kami?! Setelah melihat semua orang tersenyum karena kamu, apa kamu masih belum puas??! Sebenarnya, terbuat dari apa hatimu itu!! Bagiku, kau adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untukku...”, Regina bergumam di dalam hati.
”Regina, kamu nggak masuk??”, sahut mama Tania yang sudah di depan pintu rumah bersama ibu Regina.
”Duluan ajjah deh, Tante. . .”, mama Tania tersenyum, melihat ke arah pelangi yang tadi dilihat Regina, ”Tania. . , paling suka lihat pelangi!!”
Regina kembali menoleh ke mama Tania, yang tersenyum dan masuk rumah. Regina kembali memandang pelangi dari taman rumah Tania.
”Tania. . . Makasih!! Kamu udah donorin mata kamu untuk ibuku. Ngebolehin aku tinggal di rumahmu dan semuanya yang kau berikan padaku. Aku nggak tau apa aja yang kamu rencanain dulu. Dan aku akan ngejaga semua amanat kamu ini. Friend forever-ku. . .”
        Kotak merah itu terbuka, terlihat foto dua orang gadis yang ceria. Ada catatan kecil di bawahnya.
       TANIA & REGINA
       FRIEND FOREVER

No comments:

Post a Comment