June 30, 2012


Hadiah Yang Terindah
“Happy birth day, Dewi!! Happy birth day, Dewi!!”
          Alunan lagu ulang tahun, terus menggema di kepalaku. Aku adalah Dewi, seorang gadis berwajah manis, dan punya banyak teman. Aku pernah bercerita pada salah satu temanku, bahwa aku menyukai tempat yang alami. Tempat yang indah karena sentuhan alam. Dan disinilah aku sekarang, permandian yang tak pernah bosan ku kunjungi. Udaranya sejuk, airnya dingin sekali, banyak pohon liar yang besar melambai-lambai mengucap salam, pada pengunjung permandian ini. Suara kicauan burung terdengar bertegur sapa, berbincang dengan bahasanya sendiri tanpa dibuat-buat. Mereka semua adalah perpaduan alam yang saling menyatu, menjadi komposisi yang indah mempesona. Inilah alam ciptaan-Nya.
Sejak kecil, aku suka kesini, tapi sampai sekarang aku masih belum tahu bagaimana permandian alami ini dibuat, dan akupun tak pernah bertanya. Mungkin, saat ini, hanya itulah keinginanku, dan akupun meniup lilin di atas black forest, buatan mamaku tercinta.
          “Eh, Dew!! Kamu nbisa renang nggak??” sahut Mely, saudara sepupuku dari Surabaya.
          “Mmm… Nggak!! Hehehe..” jawabku pelan. Sebenarnya malu juga mengatakan ini. Aku sudah sering kesini, walaupun lumayan jauh dari kota Lumajang tempatku tinggal., tapi aku belum juga pandai berenang. Biasanya aku mencoba berenang, namun selalu diakhiri dengan gerutuku karena kakiku yang tergores batu liar di dalamnya.
          “Udah ah!! Nggak usah bohong!! Bukannya nilai olah raga di rapormu kemaren 80?!”
          “Iya,, tapi emang belum ada materi renang. Coba kalo ada!!”
          Mely mengangkat bahunya, “Aku mau renang. Nyobain airnya Lumajang!! Hehe,”
          Aku hanya tersenyum menanngapinya. Aku berjalan menyusuri pinggiran kolam, iseng aku menaiki tangga perusutan tempat anak-anak berseluncur ke dalam air. Tapi entah ulah siapa, saat aku sudah dekat dengan tempat seluncurnya, seperti ada tangan jahil yang mendorongku. Aku tersentak, dan akupun berseluncur cepat ke bawah untuk mencapai air. Pita suaraku seras putus, mungkin orang mengira aku hanya berseluncur, karena aku tak berteriak ketakutan.
          “Ya, Allah!! Bantulah hamba,, jangan biarkan hamba terkapar di dasar kolam itu. Bahkan yang tak ku tahu asal usulnya...!” aku hanya berdoa sambil memejamkan mata.
BYURR!! Aku tetap memejamkan mata. Sampai, aku merasakan kakiku telah berpijak di sebuah tempat, dan kurasakan tubuhku yang tak basah sedikitpun.
          Keingku berkerut heran. Kini, aku tidak berada di dalam air yang dingin. Tapi, di sebuah jalan setapak yang dikelilingi banyak pohon besar. Namun, tak lebih besar dari sang surya yang bersinar cerah menembus celah-celah pohon rindan, cahayanya menyilaukan. Aku memercingkan mata. Di sini sepi, kemana teman-temanku?! Kemana Mely dan yang lain? Apa aku mimpi?! Aku mencubit lenganku, sakit, berarti ini bukan mimpi.
          “Mely!! Mely, kamu dimana?!” aku berteriak keras, pita suaraku telah kembali pulih. Aku menggerutu sendiri, mengingat Mely yang mengira aku bisa berenang. Apa dia yang mendorongku tadi?! Sudahlah, itu urusan nanti. Yang penting sekarang adalah berkumpul dengan keluarga dan teman-temanku. Masalahnya, dimana mereka?! Aku berjalan tak tentu arah, kadang lurus, ke kanan, ke kiri, mengikuti kemauanku kakiku sendiri. Hingga aku berada di jalan yang lebih luas, tapi tetap tak beraspal. Di depanku ada sebuah… Entahlah, aku lupa namanya. Aku terus berjalan menuju tampat aneh itu. Aku baru ingat, di film-film daerah seperti ini biasanya disebut padepokan. Setelah memasuki wilayah iti, aku heran, bingung, dan sedih. Heran melihat semua yang aneh. Bingung akan kemana. Dan sedih, karena tak ada yang kukenal, seorangpun.
          Di sini ada banyak orang, mereka semua aneh. Pakaian mereka aneh,wajah mereka terlihat aneh. Tak kalah anehnya juga, peralatan yang mereka bawa. Tapi sepertinya, kalau aku ada di tempat ini, akulah yang aneh. Mereka memandangku seperti melihat seorang makhluk luar angkasa. Pastilah, aku risih dilihat seperti itu. Kalau melihat wanita di sini, rasanya memang aku yang paling modern. Kalau aku pake jeans, mereka memakai sehelai kain batik yang dililitkan di tubuh mereka, nenekku biasa menyebutnya jarit.
          “Maaf, Bu. Ini daerah mana ya?!” tanyaku pada seorang ibu yang kelihatannya bisa diajak kompromi, semoga saja. Dia memandangiku dari ubun-ubun sampai ke telapak kakiku, yang memakai sepatu kets.
          “Dari mana asalmu, Nak?!” tanya ibu itu lembut. Sekarang, aku ada di sebuah rumah kecil, yang hanya tersusun dari bongkahan kayu. Terlihat sangat sederhana, tapi bersih dan rapi.
          “Saya dari Lumajang. Tadi saya ada di permandian Selokambang!! Tapi, entahlah kenapa tiba-tiba saya ada di sini. Saya mencari orang tua saya, tapi sampai sekarang belum juga ketemu.”
          “Jangan ngelantur. Di sini, tidak ada tempat bernama Selokambang. Mungkin kau bermain dan jatuh dari tebing, hingga ingatanmu hilang untuk sementara..! Dan dari mana kau dapat pakaian seperti itu?!”
          “Tidak, saya tidak bohong. Selokambang benar-benar ada. Tempat ini, beda dengan tempatku. Di tempat saya, pakaian seperti yang saya kenakan ini, sudah tidak asing lagi. Saya sendiri bingung, ini dimana?!”
          “Ini daerah kekuasaan Adipati Arya Wiraraja yang sudah meninggal, wilayah ini adalah hadiah dari Kerajaan Majapahit karena jasa-jasanya. Empu Nambi, sebagai putra sang Adipati ingin mengadakan selamatan untuk ayahandanya di sini. Cepatlah kau mandi dan ganti baju, pakailah ini! Bantulah aku, mempersiapkan selamatan?!” kata ibu itu sepasang baju yang jadul, bagiku. Aku menggerutu dalam hati, tapi tetap memakainya. Pasrah!
          Selamatan yang di bilang ibu itu sangat ramai. Mereka mengirim doa untuk arwah Adipati Arya Wiraraja. Sama halnya dengan selamatan di duniaku, tapi di sini tak ada nasi kotak. Dan itu membuatku ingat pada keluargaku. “Ma, Pa!! Kalian dimana?? Aku tersesat di dunia aneh apa ini?!” rintihku dalam hati.
          Esok harinya, kulihat para keluarga  dari Adipati Arya Wiraraja sedang berlatih perang.
          “Itu kebiasaaan di keluarga Adipati Arya Wiraraja secara turun-menurun Kegiatan itu dilakukan untuk memupuk kekuatan, bukan untuk memberontak.” Jawab ibu itu saat aku bertanya. Belakangan aku tahu, bahwa dia adalah pembantu di kerajaan ini. Dia termasuk salah satu abdi kinasih (pembantu yang disayangi) Ki Demang Ploso, bawahan Empu Nambi. Aku sempat melihat para prajurit yang berlatih, ada seorang yang sepertinnya ku kenal?!!! Sudahlah, mungkin hanya ilusiku saja.
          BRAK!! DUAR!! Rumah warga hancur, dihempas pedang ataupun dengan tenaga dalam.
          “Tolong!!” para warga menjerit ketakutan.  Ada segerombol orang menaiki kuda, mereka terlihat bengis dan kejam. Apalagi, yang menunggang kuda di urutan paling depan, di matanya tersirat kelicikan. Pedang yang di bawanya seakan haus darah.
          “Itu Maha Patih,, patih kerajaaan Majapahit. Ada kabar bahwa ia menfitnah Empu Nambi beserta keluarganya, hendak melawan Raja. Raja yang percaya pada Maha Patih, langsung mengirim pasukan. Segeralah pergi dari padepokan ini!!”
          “Bagaimana dengan ibu??” suaraku terdengar cemas. Walaupun aku baru mengenalnya, tapi aku sudah menganggapnya ibu di dunia ini. Kulihat sekilas, orang yang disebut  Maha Patih dan juga para prajuritnya telah menghancurkan sebagaian wilayah yang disebut Benteng ini. Dan yang kutahu, sekarang desa ini disebut Desa Biting.
          “Sudahlah, jangan hiraukan saya! Bukankah kau masih ingin mencari keluargamu?! Pakailah pakaianmu yang dulu. Kelihatannya pakaianmu lebih leluasa untuk digunakan lari.”
“Ibu,, terimakasih untuk semuanya!” kataku dengan suara parau, aku menitikan air mata, begitu juga dengan ibu itu. Tapi dia berusaha tersenyum. Dan ketika aku membuka pintu, dia memanggil namaku, untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir. “Dewi, berhati-hatilah!!” katanya tegas, akupun mengangguk.
          Aku berlari sekencang mungkin, menghindari kayu-kayu bekas rumah penduduk yang jatuh berantakan. Ibu itu benar, kalau aku memakai bajunya, aku takkan bisa berlari dengan cepat dan lincah. Tapi, bagaimana dengannya?! Tunggu!! Aku sudah tinggal bersamanya beberapa hari tapi aku belum tahu nama ibu itu! “Ya, Allah!! Selamatkanlah ibu itu, yang telah merawatku layaknya anak. Amien…” doaku dalam hati. Aku tak sanggup menahan air mataku yang mengalir deras.
          BRUUK!! Aku terjatuh, hampir saja sebuah balok kayu menimpaku. Terimakasih untuk orang yang mendorongku hingga terhindar dari bongkahan kayu itu, tapi dimana dia?!
          “Pergilah!! Cepat!!” sahut seorang prajurit. Prajurit yang wajahnya familiar di mataku.
          “Aaa…” aku mendengar suara Empu Nambi menjerit, suaranya sungguh menyayat hati. Mendengar itu, tubuhku memaku. Aku menerawang jauh, pandanganku kosong.  Empu Nambi telah tiada, bagaimana dengan aku?! Nafasku tak beraturan, cepat, memburu, lalu aku seperti kehabisan udara. Tepat di depanku, kulihat ada sebuah pedang yang hendak menyantapku, aku tak bisa bergerak.
          “RENDY!!!” teriakku histeris. Aku baru ingat, prajurit itu mirip Rendy, lelaki yang aku sayangi di duniaku. Aku tak peduli dengan orang berkuda, kalau saja aku membawa senapan, aku akan menembaknya, tak peduli walau nantinya harus dipenjara. Tapi, pasukan berkuda itu seperti tak melihatku, dia pergi. Aku mendekati prajurit yang perutnya tertusuk itu. Matanya menatapku nanar, kesakitan. Aku duduk memandangnya dengan air menggenang di kelopak mataku. Lidahku kelu, tak sanggup berkata-kata.
          “Empu Nambi dan keluarganya sudah tewas. Pergilah!! Temui Rendymu..” itu kata terakhirnya. Dan aku kemabali berlari. Rendy bagaimana kabarmu?! Bahkan kau belum datang saat aku meniup lilin ulang tahunku.
          Hari sudah siang, matahari memamerkan sinarnya. Setelah melakukan perjalanan yang panjang, sampailah aku di sebuah padepokan.
          BRUKK!! Aku terjatuh bersama seorang ibu yang membawa banyak perhiasan.
“Ibu!!” aku yakin, itu ibu yang dulu tinggal bersamaku. Tapi, dia tidak memandangku, sedetikpun. Dia berlari menuju rumah kuno yang sederhana. Aku bingung, dulu dia memperhatikanku seperti anak sendiri. Namun kini, dia bahkan seperti tak tahu bahwa aku di dekatnya. Samar-samar kudengar pembicaraan mereka. Empu Nambi dan keluarganya meninggal, tapi salah seorang bawahannya, Ki Demang Ploso, berhasil melarikan diri dengan meninggalkan semua harta kekayaannya. Yang dibawa ibu itu adalah perhiasan berharga milik Ki Demang Ploso. Ibu itu ingin menyembunyikan harta itu di sebuah tempat, agar perjalanannya mencari Ki Demang Ploso lebih mudah dan lincah. Saat di perjalanan, ia menemukan satu batu sebesar danau dan ingin menyembunyikan harta tersebut di tempat bitu. Lokasi batu itu dekat padepokan Empu Teposono yang dikenal sakti, yang ternyata pemilik rumah ini. Dan ibu itu meminta Empu teposono untuk menyingkirkan batu itu.
          Ketika keluar dari rumah Empu Teposono, ibu itu melewatiku, seolah tak ada siapapun di sana. Sedangkan Empu Teposono, hanya tersenyum ramah padaku. Empu Teposono bersemedi sejenak, lalu dengan menyandang keris “aji pamelang” dan tongkat “gemilang” batu itu digeser hingga masuk ke danau dengan mudah. Yang tak kusangaka, batu itu tidak tenggelam melainkan terapung. Karena peristiwa itu, masyarakat menamainya Selokambang, yang kemudian semakin membesar dan batunya hancur dimakan waktu.
          Setelah sekian lama, aku baru menyadari bahwa tempat ini juga yang membuatku masuk dunia ini. Apa aku bisa pulang, bila masuk ke danau itu lagi? Apakah bisa?! Bantu aku, Ya Allah!
          BYURR!! Semuanya telah berlalu, kini aku ada di taman sebuah Rumah Sakit. Samar-samar kudengar suara Rendy memanggil namaku, suara mama, papa. Semua itu membuatku menitikan air mata. Mereka yang selama ini aku cari, mereka yang selalu aku rindukan. Aku berlari sekencang-kencangnya mengikuti petunjuk hatiku. Kakiku berhenti di depan sebuah kamar, pintunya sedikit terbuka, entah mengapa aku ingin masuk ke dalam kamar itu. Kulihat Rendy menitikan air mata, di belakangnya, mama dan papaku juga menangis. Mereka semua memandang tubuh seorang gadis yang terkulai tak berdaya, dan itu… itu aku. Lalu, apa wujudku sekarang?! Kalau dia Dewi, siapa aku?! Kenapa disana ada tubuhku? Apa aku sudah tiada?! Ya, Allah… kumohon, beri aku kesempatan bersama mereka, walau hanya melepas rindu. Walau hanya bercerita tentang pengalamanku. Aku menangis di depan ragaku sendiri. Tiba-tiba semua kembali gelap.
          Kini aku berada dalam air yang dingin, tubuhku seperti membeku. Aku berusaha naik ke permukaan, tapi tenagaku seperti habis, sampai sebuah tangan meraih tanganku… “Rendy.” Desisku pelan.
          Dan aku membuka mataku perlahan, rasanya kelopak mataku seperti lengket. Kurasakan tetesan air hangat jatuh di telapak tanganku. “Rendy, Papa, Mama…!”
          Rendy berjalan sendiri dengan pandangan kosong, menyusuri pinggiran kolam. Dia berhenti di depan sebuah kolam yang airnya bening, Selokambang. Pandangannya nanar, dia menitikan air mata terakhir untuk mengenang kepergian Dewi, setelah gadis itu menceritakan pengalamannya. Dia mencoba untuk tegar, tak ingin larut dalam kesedihan, dia menunduk. Tak ada yang tahu, apa yang ada di pikirannya, tapi dia berbisik pelan mengikuti suara angin yang berhembus dengan lembut. “Dewi… Tuhan telah memberikan hadiah yang terindah itu untukmu…”

_ Sekian _





No comments:

Post a Comment